EH?
Menulis adalah terapi yang baik dan saya percaya itu. Saya suka menulis. Saya selalu menulis. Tapi ketika diminta menulis refleksi lagi, saya panik. Bagaimana mungkin bisa menulis dengan baik untuk merefleksikan kematangan diri yang sudah menyentuh kepala dua ini? Apa yang bisa saya bagi? Saya memang selalu menulis. Di blog, tumblr, twitter, atau sekedar jurnal pribadi. Bahasa gaulnya waktu sd sih, diary. Tapi mayoritas, SELURUH tulisan saya pasti selalu berhubungan dengan Ari. Yep, dikarenakan kami yang tidak sama, walaupun Tuhan itu satu, terpaksa saya menyudahi hubungan dengan Ari. Berat sekali rasanya waktu itu. Pernah merasa begitu menyayangi dan yakin dengan seseorang, lantas kalian harus dipisahkan tiba-tiba? Menyayangi, seperti kalian menyayangi anggota keluarga. Ayah, ibu, adik, kakak. Yakin, seperti ketika kalian memilih presiden saat pemilu, lantas berharap pak presiden dapat melakukan hal-hal yang besar dan baik bagi kalian sebagai rakyat. Ketika sosok tersebut hilang, kalian goyah. Gamang. Hilang panutan. Itulah yang saya rasakan. Mungkin tidak dalam kasus presiden ya. Kalo itu sih ..... ups. Hehe.
Entah karena rasa sakit hati, kesedihan yang mendalam, saya begitu impulsif menuangkan apapun yang saya rasakan ke dalam tulisan. Harus saya akui, hal itu bekerja cukup baik. Saat galau, saya cukup menuliskan segala sesuatu, mencurahkan segenap emosi melalui tulisan, menangis kencang, lalu kemudian hilang. Lega. Walau hanya sementara. Jadi, salahkan perilaku impulsif saya, yang membuat isi blog, tumblr, maupun twitter saya kebanyakan mendayu-dayu tentang Ari.
Berbicara tentang impulsif, ada hal menarik yang saya temukan. Sebelumnya, bolehlah saya memberi sedikit penjelasan tentang impulsif. Impulsif dapat dikatakan sebagai perilaku spontan berdasarkan stimulus tertentu. Ini adalah definisi saya pribadi, sebetulnya menggabungkan definisi dari berbagai sumber. Sebab inilah penjelasan yang paling pantas untuk menggambarkan impulsif itu sendiri.
Dalam sebuah wawancara kerja, saya pernah dihadapkan pada pertanyaan, “How do you express yourself? What are you really closed to?” Pertanyaan yang tricky. Saya sempat menjawab, “I am a casual yet friendly person.” Pewawancara menolak. Ia mengatakan, “No. Tell me something more specific about yourself. I mean if we talk about you, what would you say? What kind of person are you in daily?” (Maaf saya terpaksa menulis dalam bahasa Inggris supaya kalian bisa ikut merasakan ketegangan saya. Diberikan pertanyaan tajam, dalam bahasa Inggris pula. Bah!) Saat itu, saya tanpa berpikir lama-lama (salah satu ciri orang impulsif), menjawab dengan mantap. “I am an impulsive person.” Selanjutnya, ia minta saya menjelaskan. Seperti yang saya katakan, orang impulsif adalah orang yang spontan, yang melakukan sesuatu berdasarkan stimulus tertentu. Pewawancara manggut-manggut. Dia lantas bertanya, apakah itu artinya saya orang yang ceroboh? Saya menolak dengan tegas. Selain karena kata “ceroboh” itu bisa mengurangi nilai jual saya (namanya juga lagi interview kerjaan cyin, kalo kita ceroboh mana mau si boss itu meng-hire kita. Ya gak?), saya ingin meluruskan bahwa memang ada kondisi yang jelas, kapan kita tepat menggunakan kata ceroboh, kapan kita sebaiknya menggunakan kata impulsif.
Orang impulsif melakukan hal berdasarkan stimulus (dorongan) tertentu. Stimulus itu umumnya sangat mengganggu keseimbangan otak, membuat kami berpikir jauh, why if I do this? Why if I do that? Dan orang impulsif selalu gagal dalam mengabaikan stimulus tersebut. Mereka justru mengambil resiko mencoba melakukan sesuatu. Jika berhasil, maka itu pengalaman. Jika gagal, itu dapat menjadi pelajaran. Berbeda dengan orang ceroboh, mereka melakukan sesuatu bukan berdasarkan stimulus tertentu. Dan umumnya menemui ketidakberuntungan. Makanya, kata “ceroboh” itu terkesan negatif. Bukan begitu teman?
Begini, daripada bingung memahami, apalagi saya banyak memakai kata stimulus. Apa itu? Saudaranya tikus? Atau kakus? Saya akan memberikan satu ilustrasi sikap impulsif saya (calon boss itu kebetulan juga bertanya demikian). Suatu ketika saya sangat ingin melakukan perjalanan ke Bali. Berhubung saya memiliki saudara di sana, saya sering sekali kesana. Sayangnya, saya selalu kesana melalui jalur udara. Tidak pernah melalui jalur darat. Lantas saya berpikir, bagaimana rasanya ya ke Bali melalui jalur darat? Toh banyak pula penawaran jasa transportasi yang mencapai Bali dari Pulau Jawa melalui darat. Ditambah keadaan liburan akhir tahun di mana tiket pesawat mungkin bisa membunuhmu (harganya mencekik). Saya memutuskan mencari tahu informasi perjalanan ke Bali dari Yogyakarta melalui jalur darat. Alih-alih ingin merasakan sensasi backpacker, saya mencoba menggunakan alternatif dengan kereta, dilanjutkan kapal ferry, lalu bis. Ternyata memang benar, banyak jalan menuju Bali. Tidak hanya Roma, bung. Semakin banyak informasi yang saya peroleh, semakin gatal kepala saya untuk merealisasikan rencana tersebut. Ada begitu banyak bekal informasi yang bisa saya gunakan untuk menempuh perjalanan darat ke Bali. Lantas, mengapa tidak dipakai? Singkat kata, seminggu saya mengumpulkan informasi, sehari kemudian saya sudah di dalam kereta bisnis menuju Surabaya. Rencananya transit, dilanjutkan kereta bisnis ke Banyuwangi, dan menyeberangi Selat Bali dengan kapal ferry. Emosi saya begitu meluap-luap, menjelma menjadi semangat, yang membuat saya sedikit lupa akan unsur-unsur mengenai keselamatan atau kenyamanan. Santai saja, toh saya pergi dengan sepupu laki-laki.
Stimulus ini spesifik. Semakin banyak cerita kesuksesan orang yang menempuh jalur darat ke Bali, membuat saya penasaran mengapa saya tidak mencoba? Saya harus bisa seperti mereka. Menimbang-nimbang, takut, atau bahkan menunda tidak ada di kamus saya. Sebab saya tidak ingin menghabiskan waktu untuk bermuram durja, bertanya-tanya, seandainya saya waktu itu tidak jadi backpacking ke Bali. Saya tidak ingin menyesali segala sesuatu karena tidak mencobanya, lalu seumur hidup tumbuh bersama rasa penasaran.
Untuk beberapa saat, saya meyakini bahwa impulsif adalah lebih tinggi kastanya terutama bila dibandingkan dengan “ceroboh.” Saya melihat perilaku impulsif sebagai sebuah kekuatan, a strength. Saya adalah pemberani. Tapi siapa sangka, kekuatan yang tidak dikelola dengan baik, ternyata bisa mendatangkan kerugian. Perilaku impulsif membuat saya seringkali kurang sabar dalam membaca tanda-tanda, kapan stimulus tersebut sudah cukup menjadi dasar untuk melakukan sesuatu. Saat ini, saya sedang mengalami hal tersebut. Cukup membuat terpuruk, tapi saya tidak akan membagikan kisah tersebut di sini. Berhubungan dengan pekerjaan sih, dan saya masih mengharap-harap. Takutnya pamali kalo diumbar-umbar. Maaf ya cyin.
Saya menyesal karena tidak cukup sabar menunggu. Padahal tanda-tanda itu ada di sana. Terlalu takut melewatkan kesempatan, saya malah hampir menyia-nyiakan kesempatan emas. Saya harap itu tidak akan terjadi ya. Tolong doakan ya teman-teman.
Eh, kayaknya tulisan saya sudah panjang ya? Cukup ngelantur juga. Padahal katanya bingung mau nulis yang lain selain Ari. Ini nih, orang impulsif. Apa saja yang ada di otaknya, dimuntahkan. Hidup orang impulsif memang tanpa pattern. Selalu dinamis seperti air.
Kalau boleh merangkum tulisan liar di atas, sebenarnya kita dapat menilai diri kita dengan kata tertentu, entah kata benda, kata kerja, kata sifat. Kebetulan kata yang saya pilih adalah kata sifat. Tidak mau ah, menilai diri dengan kata benda. Masa nanti ngaku-ngaku, saya seperti kupu-kupu. Indah. Bwek!
Adapun kata yang merefleksikan diri kita tersebut mampu menggambarkan kita dengan baik, ketika kita menjadi sosok yang baik maupun sosok yang buruk. Kata tersebut memberikan arti ganda bagi kepribadian kita, dalam cara menguntungkan atau merugikan. Sebab selayaknya semua manusia, mereka pasti memiliki dua sisi. Keduanya selalu muncul dalam setiap peristiwa kehidupan. Entah mana yang akhirnya dominan, kamu sendiri yang putuskan. Itulah intinya belajar. Cobalah semua, lantas pilih mau jadi apa dirimu nanti. Tentunya yang paling baik ya. Saya merasa bahwa sebaiknya perilaku impulsif ini dikelola supaya akhirnya menguntungkan saya, di mana saya bisa menjajal setiap kesempatan baik yang datang ke dalam hidup saya. Di saat tua nanti, tentu banyak pelajaran yang saya petik. Dan benar saja, saya tidak akan menyesal tidak mencoba A, B, C, dst. Begitulah...
Eh, jadi apa “kata” mu? How do you express yourself best in one word?
0 comments:
Post a Comment
Your comment?